It's me, Una
Minggu, 13 Februari 2011
Selasa, 08 Februari 2011
True Du'aa by Avicenna (428/1037)
Doa sejati yang paling tinggi adalah perenungan Tuhan dengan kalbu yang murni
Yang terlepas dari hasrat keduniawian
Tidak terpaku dengan sikap-sikap jasmaniah
Melainkan dengan gerak-gerik jiwa
Jiwa semacam ini memohon pada Dzat yang Maha Tinggi
Untuk kesempurnaannya sendiri, melalui perenungan kepada-Nya
Dan untuk kebahagiaannya yang tertinggi, melalui pengetahuan segera tentang Dia
Di atas jiwa ini kemuliaan Ilahi terpancar, ketika hamba sedang berdoa
16 Nasihat Ayatullah Khomeini untuk Pembinaan Pribadi Muslim
1. Sedapat-dapatnya berpuasalah setiap hari Senin dan Kamis.
2. Shalatlah 5 waktu tepat pada waktunya dan berusahalah shalat tahajjud.
3. Kurangilah waktu tidur dan perbanyaklah membaca Al-Qur'an.
4. Perhatikan dan tepatilah sungguh-sungguh janjimu.
5. Berinfaklah kepada fakir miskin.
6. Hindarilah tempat-tempat maksiat.
7. Hindarilah tempat-tempat pesta pora dan janganlah mengadakannya.
8. Janganlah banyak bicara dan seringlah berdoa, khususnya pada hari selasa.
9. Berpakaianlah secara sederhana.
10. Berolahragalah (senam, lari jarak jauh, mendaki gunung dan lain lain).
11. Banyak-banyaklah menelaah berbagai buku (agama, sosial, poloitik, sains, filsafat, sejarah, sastra dan lain-lain)
12. Pelajarilah ilmu-ilmu teknik yang dibutuhkan negara Islam.
13. Pelajarilah ilmu tajwid dan bahasa Arab, serta perdalamlah.
14. Lupakanlah pekerjaan-pekerjaan baikmu dan ingatlah dosa-dosamu yang lalu.
15. Pandanglah fakir miskin dari segi material dan ulama dari segi spiritual.
16. Ikuti perkembangan umat Islam.
(sumber: Wasiat Sufi Ayatullah Khomeini, Mizan)
RELEVANSI TASAWUF (IRFAN) DI DUNIA MODERN
Pendahuluan
Tasawuf atau ‘Irfan merupakan satu jalan yang ditempuh para kaum Sufi untuk menuju kepada Sang Pencipta Yang Esa, Allah ‘azza wa jalla. Para Sufi tiada mempunyai jalan atau cara lain untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, selain menyucikan dirinya kepada Dzat Yang Maha Suci. Dengan jalan ‘irfan, para Sufi berupaya untuk menghilangkan sekat-sekat dan hijab yang tertutup diantara dirinya dan Tuhan. Sehingga beragam macam kenikmatan duniawi mampu terkalahkan oleh kenikmatan yang lebih sempurna, yaitu kenikmatan dalam berdekatan dengan Dzat segala dzat. Menurut kaum Sufi, tiada hal yang lebih indah selain bertemu, bertatap dan berdekatan denganNya, semua yang melekat pada dunia hakikatnya adalah semu, tidak menjanjikan apapun, tidak menjamin kepuasan dan hasrat yang batin. Maka ketika semua permasalahan telah sampai pada jalan buntu, tidak ditemukan lagi daya dan upaya melainkan Dia, Dzat Yang Maha Memberi.
‘Irfan atau yang lebih sering dikenal sebagai tasawuf merupakan satu hal yang memiliki urgensi di tengah-tengah masyarakat modern. Tasawuf pada kenyataannya juga dapat menjadi ‘solusi’ bagi kegersangan hidup di dunia modern, sebagian masyarakat modern berpendapat bahwa hal yang dapat menentramkan jiwa setiap individu adalah spiritualitas, ketika beragam masalah kehidupan dari berbagai bidang muncul, tasawuf mampu menjadi primadona sebagai jalan keluar pada saat yang sama, karena tasawuf memiliki penawaran yang menarik bagi sebagian peminatnya. Tasawuf mampu menghadirkan suasana yang damai dan nyaman bagi kebanyakan orang, di kala materi dan kekuasaan tidak dapat lagi berdiri kokoh dan menjulang untuk memuaskan hasrat keduniawian, tasawuf mampu menggantikan kehausan batin kaum manusia. Lantas, bagaimana peran dan kehadiran tasawuf pada saat ini? Seberapa penting tasawuf di dunia masyarakat modern? Apakah jalan spiritualitas sebagai satu-satunya solusi dalam segala hal?
Peran Tasawuf dalam Masyarakat Modern
Menurut Dr. Said Aqil Siraj, tasawuf merupakan suatu “revolusi spiritual” atautsaurah ruhiyah, karena tasawuf dapat menyempurnakan kebutuhan manusia, yaitu selalu memperbarui dan menyemai kekosongan manusia.[1] Ketika hati manusia benar-benar merasakan kedamaian dan kelapangan terhadap sesuatu di luar dirinya, maka hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan spiritualitasnya, dalam hal ini spiritualitas merupakan cerminan dari jalan tasawuf. Said Aqil Siroj memaparkan bahwa untuk memulai jalan tasawuf atau mengisi kekosongan jiwa melalui praktek tasawuf adalah dengan selalu bermuhasabahatau instropeksi diri,[2] untuk selalu menjaga dan mawas diri dari hal-hal yang membuat terlena.
Di era modern ini, beragam macam krisis menimpa dan menjadi bagian dalam kehidupan manusia, mulai dari krisis sosial, agama, struktural, kultur, politik bahkan sampai pada krisis spiritual, yang pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa semuanya bermuara pada persoalan makna kehidupan bagi manusia. Dalam hal modernitas, yang di dalamnya terdapat kemajuan teknologi dan perkembangan industralisasi mengakibatkan manusia kehilangan orientasi, visi dan misi dalam hidupnya sendiri. Ketika kekayaan materi yang melimpah daan kian menumpuk, namun pada saat yang sama jiwa memiliki ruang kosong dan hampa. Yang menjadi prioritas bukan lagi ketenangan batin namun pemuasan hasrat pemenuhan materi-materi duniawi, seperti bekerja siang malam, tanpa mengenal waktu demi menggapai materi, mengeruk keuntungan-keuntungan duniawi yang tidak berujung.
Dampak negatif yang muncul dari modernitas inilah yang menjadi salah satu pemicu bagi tumbuhnya hasrat pada spiritualisme, dimana jiwa dan raga menemukan titik jenuh, jenuh terhadap formalitas, dan dinding-dinding keangkuhan- di Barat hal semacam ini disebut non-oganized religion, sedangkan di Timur dikenal dengan beberapa istilah; “kebijaksanaan Timur” atau “spiritualitas Timur,” dan adapun dengan Islam sendiri dikenal dengan dimensi tasawufnya. Spiritualisme menjadi satu kegemaran baru bagi mereka yang dahulu menolak prinsip-prinsip ruhani dalam hidup, mereka yang mengacuhkan sisi-sisi kearifan untuk memaknai hidup, yang kemudian mereka beralih pada dimensi lain yang (sejak dahulu) telah berada sesuai fitrahnya, kearifan spiritualitas yang tradisional, yang mampu meluluh-lantakkan ego, membinasakan keangkuhan, dan menghanyutkan arus hasrat terhadap keduniawian. Disinilah, peran tasawuf sangat penting diperlukan, dengan berdiri diantara kokohnya paham-paham modernitas, maka dalam hal ini, tasawuf mengambil alih peran untuk memahamkan manusia bagaimana memaknai hidup sesuai dengan fitrah, dengan penuh tenggang rasa dan toleransi, mewujudkan keseimbangan antara jiwa, hati dan pikiran, pun dengan tingkah laku. Meningkatkan kesadaran diri atas semua hal di dalam dan di luar dirinya, secara zahir dan batin, serta menyeluruh.
Dan yang perlu menjadi catatan disini adalah fenomena mewabahnya kegairahan pada spiritualisme dan tasawuf ini dapat menimbulkan berbagai macam dampak ditengah-tengah masyarakat. Namun begitu, seiring dengan berkembangnya paham mengenai jalan tasawuf, pada sisi lainnya tasawuf ditempatkan sebagai tempat untuk bersinggah, sebagaimana layaknya seorang musafir yang berkelana dari satu daerah ke daerah lain. Bagi komunitas tertentu tasawuf hanya merupakan ‘solusi’ atau jalan keluar dari suatu masalah atau krisis, yang dapat ditinggalkan atau bahkan dilupakan begitu saja tanpa ada kesan apapun, dan manusia pada tingkat ini menganggap bahwa kedudkan tasawuf adalah sebagai terapi bagi jiwa saja, bukan sebagai jalan hidup. Membangun paradigma tasawuf sebagai penyembuh bagi krisis-krisis yang merebak di masyarakat juga keliru. Tasawuf yang sebenarnya adalah suatu hal yang dijadikan pedoman untuk menata ulang kembali ‘gaya’ dan tatanan hidup yang sedang dilakoni. Sudah sesuaikah jalan tasawuf tersebut dengan fitrah bagi kehidupan yang tengah berlangsung? Sudahkah sejajar jalan tasawuf tersebut dengan kedudukan manusia di muka bumi?
Tasawuf bukanlah obsesi yang harus dicapai, melainkan satu tingkat dalam fase kehidupan manusia atas kesadaran jati dirinya terhadap Dzat Sang Pencipta. Manusia atau masyarakat modern memerlukan kesesuaian dengan segala bentuk metode yang ia gunakan untuk menjalani hidupnya sesuai dengan aturan Tuhan, diharapkan agar manusia dapat lebih bersikap bijaksana dalam memaknai jati diri dan kehidupannya. Tasawuf bukan pula sebuah tren atauprestige yang patut dibanggakan, demi untuk meningkatkan kebutuhan-kebutuhan ego semata atau metode untuk memenuhi hasrat batin dalam tempo yang singkat. Jika hal-hal yang demikian terjadi, maka tasawuf telah dipahami dengan cara yang keliru. Oleh karena itu, tasawuf berperan penting untuk menaklukkan dan menghancurkan kekeliruan-kekeliruan yang terjadi, namun pada hakikatnya tasawuf memiliki kemampuan untuk menjadikan segala yang buruk menjadi baik, tentunya sesuai dengan kode etik yang berlaku. Ketika hati yang keras dapat menjadi lemah lembut, yang angkuh dapat bersikap rendah hati dan bijaksana, yang berlebihan dapat menjadi yang qana’ah atau mensyukuri nikmat apa adanya, yang pesimis tergantikan oleh rasa optimis, yang khawatir berubah menjadi tenang, dan sebagainya. Semua hal negatif dapat larut dan hanyut terbawa arus tasawuf, yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum ilahi.
Melalui tasawuf, para Sufi mengklasifikasikan tiga tahap proses penyucian jiwa sehingga tercapailah pemuasan batin sesuai dengan kodratnya dan tujan mulia umat manusia, diantaranya:
1. Takhalli, merupakan upaya pembersihan jiwa-jiwa kita dari sifat Basyariyah atau kelezatan, kemanfaatan, nafsu dan hasrat, serta kelemahan dan kekuatan. Proses ini telah menempatkan manusia pada maqam atau tingkat taubat, wara’ dan zuhud.
2. Tahalli, merupakan upaya atau usaha menghiasi diri dengan sifat-sifat Insaniyah, menyentuh serta memenuhi jiwa dari aspek spiritual dan ruhani kemanusiaan. Dalam proses tahalli ini, para Sufi menyebutnya pencapaian pada maqam sabr, tawakal dan ridho atau syukur.
3. Tajalli, merupakan tahap untuk menyambut datangnya kebahagiaan yang hakiki, sejati. Ketika tahap ini dapat dicapai maka tidak ada lagi sekat yang terselubung dan menutupi antara diri manusia dan Dzat Yang Sejati, keduanya melebur menjadi satu, yang tampak hanya Dia Yang Hakiki, Yang Sejati. Kenikmatan yang ta dapat dipaparkan, dijelaskan dan dilukiskan. Pada tahap ini, para Sufi menyebutnya sebagai ma’rifah, derajat manusia yang luhur, kembali kepada sebenarnya fitrah yang suci dan sebagi manusia yang luhur.
Tasawuf dan Spiritualitas
Bagaimana hubungan antara tasawuf dan spiritualitas? Apakah keduanya memiliki makna dan tujuan yang sama? Hal yang paling mendasar untuk dapat mengenal keduanya lebih jauh adalah baik tasawuf atau spiritualitas sama-sama memiliki kemampuan untuk menggerakkan dan mengarahkan jiwa menjadi yang lebih baik dan bermoral dari sebelumnya, menyadarkan eksistensi Dzat yang hakiki. Dari pada itu, tasawuf dan spiritualitas adalah sebauh potensi yang dapat memberikan makna dan mengarahkan kepada tujuan tertentu dalam suatu tindakan.
Perbedaan pada keduanya, pada spiritualitas yang tidak mesti memiliki kaitan dan pertalian dengan sesuatu yang bersifat ilahiah. Spiritualitas bisa jadi hanya berfungsi sebagai pelarian psikologis, terapi bagi manusia modern yang dihadapkan pada kejenuhan, disini spiritualitas pun bisa dikatakan sebagai obsesi untuk memenuhi kebutuhan ruhaniah sesaat, dalam tempo waktu yang sangat cepat, ambisi dalam mencari ketenangan ketika berhadapan dengan masalah dan musibah. Hal yang semacam ini, yang menyebabkan proses instropeksi diri menjadi sia-sia, tidak menghadirkan hati dan pikiran yang bersih di dalamnya, karena telah terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan yang lain, lebih jauh lagi kepentingan yang bersifat duniawi. Tasawuf bukanlah seperti yang telah dijelaskan di atas, tasawuf bukan pula tempat untuk mengisolasi diri, memenjarakan jiwa dan pikiran, namun tasawuf justru menampilkan visi keagamaan yang autentik, suatu jalan untuk melampaui keakuan, jati diri dan egoisme. Tasawuf hadir untuk sebuah visi memahamkan manusia khususnya masyarakat madani untuk menafsrkan dunia ataupun alam raya dan seisinya dengan penafsiran yang lebih baik dan lebih tepat. Dengan demikian, tasawuf mewujudkan dirinya sebagai yang memiliki komitmen besar daripada sekedar pemenuhan kepentingan ego dan spiritualitas pribadi, tasawuf berada jauh melebihi materi-materi di dunia, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa tasawuf merupakan ajaran Islam itu sendiri, hasrat dan kerinduan manusia dapat terpenuhi dengannya, melebihi janji-janji yang ada pada spiritualisme yang hanya sekejap dan temporer.
Tasawuf melampaui apa yang diserap oleh pikiran, tingkah laku, dan jiwa manusia. Tasawuf tidak dapat direduksi dalam wujud perbuatan lahiriah, yang zahir dan bukan pula sebagai bentuk wadah untuk memperbanyak ibadah. Tasawuf bukanlah ilmu pengobatan dan penyembuhan segala masalah konkret yang terjadi dalam kehidupan manusia. Tasawuf yang dijalani dengan cara yang benar dan tepat akan menjadi metode yang efektif dan impresif serta inovatif untuk menghadapi tantangan zaman. Dengan tasawuf, sebuah idealisme dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan manusia pada setiap zaman. Sebagaimana yang kita ketahui, kebanyakan dari kaum Sufi mengalami pergumulan nyata, dengan menyeimbangkan kebutuhan spiritual dan kebutuhan lainnya, seperti Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai Sufi dan menjadi seorang ilmuwan tersohor, demikian pula yang terjadi pada diri Faridudin Al-‘Aththar, seorang Sufi yang sukses dalam niaga, dijelaskan disini bahwa kesufian atau sifat luhur dan mulia semacam ini tidak akan menghalangi aktivitas mereka sehari-hari sebagai manusia biasa yang butuh kepada pemenuhan hidup dan perjuangan membangun cita-cita kemanusiaan demi maslahat orang banyak.
Pendidikan Sufistik di Era Modern, perlukah?
Berkaitan dengan fenomena yang terjadi pada masyarakat dan dunia modern, pendidikan atau pelatihan khas sufistik dirasa menjadi perlu, karena pada awal budaya dan peradaban manusia, pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses tranformasi pengetahuan dalam menyebarkan nilai-nilai luhur, pendidikan yang khas seperti ini dapat memeberikan kontribusi yang luar biasa bagi peradaban manusia.
Peradaban suatu bangsa, dilihat dari mutu dan kualitas pendidikanya. Pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidikan secara zahir dan batin; pendidikan secara zahir yaitu pendidikan formal, lebih bersifat akademis, akan tetapi belum tentu di saat yang sama membantu pendidikan ruhani umat manusia. Adapun pendidikan batin yaitu pendidikan spiritual, emosional, mendidik manusia dari batinnya, dari dalam dirinya, sehingga ketika kemelekatan antara pendidikan spiritual dan jiwa manusia muncul, maka denga sendirinya refleksi ruhani yang baik akan terlihat, dalam perbuatan, perkataan dan perasaannya. Pendidikan sufistik yang didasari oleh tasawuf mampu menyesuaikan dan menyikapi fenomena ini, sebagai bidang studi ‘pendidikan batin atau ruhani,’ karena tasawuf sesungguhnya sutau bentuk penyikapan yang aktif dan impresif, yang dapat menuntun ruhani manusia kepada perbaikan yang menyeluruh, dan yang tidak dimiliki oleh disiplin ilmu lain. Tasawuf dan pendidikan sufistik mampu berperan optimal dan maksimal dalam mewujudkan revolusi spiritualitas dalam diri manusia, yang terkait pula dengan moral. Pendidikan sufistik sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran terhadap eksistensi yang tiada batas, menjadi subjek untuk melenyapkan kezaliman dan penyimpangan-penyimpangan social yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Meskipun pendidikan sufistik belum mendapatkan tempat seutuhnya di dunia modern, tetapi akan tetap keberadaanya menjadi suatu kebutuhan yang mutlak; walaupun pendidikan seperti ini terlaksana di serambi masjid, di bawah pohon, di taman, atau gubuk tua dan rapuh sekalipun, hal tersebut bukanlah perkara penting. Pendidikan sufistik memprioritaskan aspek ruhani sebagai salah satu subjek studi. Ruhani yang matang akan menghasilkan jiwa yang tenang, perkataan dan perilaku yang bijaksana. Harmonisasi dan dinamisasi akan tercipta di dalam diri manusia, tentunya melalui tahap yang bertingkat. Hal ini terjadi bukan hanya karena hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, namun juga manusia dengan alam raya dan seisinya. Sufi-Sufi besar seperti Rabi’ah Al-Adawiyah, Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Asad Al- Muhasabi, Ibn Sina, Ibn ‘Arabi hingga Mulla Sadra pun telah memberikan teladan kepada umat dan membuktikan keberhasilan pendidikan sufistik di tengah arus modernitas pada setiap zaman. (wallahu a’lam bishshawwab)
Jakarta, December 10, 2010
[1] Dr. Said Aqil Siroj. Tasawuf Sebagai Kritik Sosial. Mizan 2006
[2] Op.cit hal: 46
GREEN (Hazrat Inayat Khan) -> The Spirit of Green (Nurhasanah Munir)
In the Green color I see
Thy life springing
I see Thy two wings
in the green water and the yellow earth
The green carpet of Thy heaven
is spread on the earth
Reflect, God, Thy compassion
in the the tone of the green nature
Thy heart's emotions
are expressed in the ever-rising waves of the green sea
Through green Thou speakest;
through blue Thou art silent
Let my soul move in Thy thought as the green in the forest
Give me the patience of the green trees
that stand still, awaiting Thy command
I ask for the bowl of green poison
thet bringeth the life that follows death
(From the initiation of Shiva; compare bowl of bitterness)
Langganan:
Komentar (Atom)

